Senin, 14 Agustus 2017

makalah sosiologi : hajat laut bojongsalawe



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial, dimanapun berada tidak pernah lepas dari berhubungan dengan sesama manusia lainnya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Agar hubungan itu berjalan dengan baik, maka dalam berprilaku manusia senantiasa berpedoman pada nilai-nilai dan norma. Nilai-nilai dan norma yang dimiliki setiap masyarakat memiliki persamaan dan perbedaan. Dengan menyadari persamaan dan perbedaannya, serta keikutsertaan kita dalam hubungan sosial, maka diciptakanlah ilmu sosiologi sebagai pedoman kita untuk berinteraksi sosial.
Budaya tidak dapat dipisahkan dari konsep Dwi Tunggal, yaitu tidak ada masyarakat tanpa kebudayaan dan tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat. Budaya adalah suatu cara hidup yang hidup dan berkembang dan diturunkan pada generasi- generasinya. Kebudayaan erat hubungan erat dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat itu diatur oleh kebudayaan itu sendiri. Hampir seluruh kebudayaan yang kita miliki adalah warisan dari nenek moyang kita. Amat sedikit tindakan manusia yang dilakukan tanpa proses belajar karena dia menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaaan yang terus berlangsung akan menghasilkan suatu kebudayaan.


B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui penerapan konsep sosiologi
2.      Untuk mengetahui arti kebudayaan dalam konsep sosiologi







BAB II
PEMBAHASAN

Aspek individu dapat dikatakan sebagai manusia, sehingga definisi manusia adalah Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok atau seorang individu. Definisi manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dan dianugerahiNya akal, hati, fisik. Yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah akal. Maka ada yang berpendapat bahwa manusia itu hewan yang berakal. Karena dari segi fisik memang tidak ada beda dengan hewan tetapi yang membedakannya adalah akal.Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan.
            Apa yang menjadi kesepakatan bersama warga masyarakat adalah kebudayaan, yang antara lain diartikan sebagai pola-pola kehidupan di dalam komunitas. Kebudayaan di sini dimengerti sebagai fenomena yang dapat diamati yang wujud kebudayaannya adalah sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari serangkaian tindakan yang berpola yang bertujuan untuk memenuhi keperluan hidup. Serangkaian tindakan berpola atau kebudayaan dimiliki individu melalui proses belajar yang terdiri dari proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.Karena di dalam masyarakat orang-orang yang hidup bersama menghasilkan kebudayaan, sehingga masyarakat sebagai pendukung, pemelihara, dan pelestaridari budaya yang telah mereka miliki yang kemudian di wariskan kepada anak cucunya.
            Keterkaitan anatara individu, masyarakat dan kebudayaan sangatlah erat dalam kehidupan individu itu sendiri maupun orang banyak. Individu harus bersosialisai dalam masyarakat sehingga melestarikan kebudayaan dan menimbulkan kebudayaan baru yang mencirikan budaya Bangsa Indonesia sendiri. Dimana yang kita ketahui bahwa budaya bangsa Indonesia memiliki budaya yang sangat banyak karena, antara masyarakat yang di pisahkan oleh suatu batas wilayah ataupun batas antar pulau juga memoiliki budaya yang khas, antara satu dengan yang lain. Sehngga ciri kebudayaan ada karena terdapat pada pendukung kebudayaan tersebut, yakni individu ataupun sekelompok orang bahkan masyarakat dimana diantara mereka membawa kebudayaannya masing-masing sehingga membedakan dengan kebudayaan masyarakat yang lainnya.

B. Hajat Laut di Bojongsalawe
Merupakan Pesta Laut yang diselenggarakan setiap awal bulan Syura oleh warga Bojongsalawe. Hajat Laut atau Pesta Laut dimaksudkan sebagai ucapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah serta keselamatan terhadap nelayan.
Ada juga yang mempercayai sebagai acara untuk meminta permohonan keselamatan dari nelayan untuk Dewi Roro Kidul, yang dipercaya sebagai penunggu Pantai Selatan. Acara ini ditandai dengan dibawanya sesaji yang ditaruh di tiga jampana dibawa ke tengah laut dan ditenggelamkan di tengah lautan.Ratusan perahu dengan berbagai warna dan ornamen ditambah dengan berbagai umbul-umbul ikut mengiringi perahu pengangkut joli atau dongdang yang berisi bermacam sesaji dalam kegiatan syukuran atau hajat laut ini.
Pesta Laut (syukuran Nelayan) adalah acara yang dihelat setiap bulan Muharam pada Kamis Wage menjelang Jumat Kliwon,  Pesta Laut dimaksudkan sebagai ucapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rejeki serta keselamatan terhadap para nelayan.
Pertama-tama para nelayan menyiapkan beberapa jampan (sesaji) terlebih dahulu. Isi dari sesaji ini berupa kepala kerbau dan kepala kambing. Biasanya kerbau dan kambing di beli para nelayang dengan penggalangan dana dari masyarakat Pangandaran. Setelah sesaji siap, para tokoh ulama dan masyarakat Pangandaran mengadakan doa bersaman terlebih dahulu dengan membacakan Yasin dan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an. Kemudian setelah doa selesai dibacakan inti dari Ritual Hajat Laut pun tiba, beberapa nelayan membawa jampan ke pinggir laut. Satu demi satu jampan dinaikan ke atas perahu. Setelah itu bebrapa nelayan membawa jampan tersebut ke tengah laut kira-kira lima mil dari pesisir pantai Bojongsalawe. Seluruh nelayan ikut dalam iring-iringan, mengawal perahu utama yang membawa jampan. Perahu paran nelayan dihias sedemikian rupa dan warna serta menambahkan ornament-ornamen tertentu yang dapat menarik perhatian.  Perahu hias ini menjadi daya tarik para wisata yang melihat Ritual Hajat Laut. Setelah sampai di tengah laut, satu persatu jampan pun di tenggelamkan. Para nelayan terjun ke laut sambil membawa ember untuk berebut air laut disekitar jampan yang ditenggelamkan. Air ini apabila di guyurkan atau di mandikan kepada perahu mereka dipercaya mendapatkan berkah selama satu tahun kedepan dengan hasil tangkapan yang banyak dan berlimpah. Setelah prosesi penurunan jampan selesai para nelayan kembali ke pesisir pantai. Acara Hajat Laut biasanya di meriahkan dengan beberapa perlombaan seperti panjat pinang, tangkap bebek di laut dan balapan penyu. Untuk hiburannya biasanya dimeriahkan oleh kesenian tradisional Jawa Barat dan tarian-tarian tradisional.

Description: Gambar terkait

Description: Gambar terkait


C.    Hasil Wawancara
Pertanyaan :
1.      Pak, apakah dalam memperingati syukuran nelayan ada ritual khusus sebelum hari H ?
2.      Tradisi ini sudah ada sejak kapan?
3.      Untuk apa tradisi ini dilakukan ?
4.      Apa pengaruh didalam tradisi ini untuk nelayan?
5.      Apakah acara ini dapat dinikmati oleh wisatawan ?

Jawaban :
1.      Ada ritual.
Ritual kegiatan nelayan, membuat karnaval, babarit : makan bersama. Malamnya diadakan pengajian. Di hari H dibuang sesaji ke laut dan sunatan masal, beri santunan kepada yatim piatu.
2.      Sudah ada sejak jaman nenek moyang, tradisi ini juga sampai ke Banten.
3.      Syukuran kepada Allah SWT
4.      Meminta rejeki kepada Tuhan
5.      Bisa jadis etiap ada syukuran nelayan pasti ada wisatawan yang datang.

D.    Biodata Narasumber
Nama                    : Ahya Sutarya
Tempat Tgl Lahir : Ciamis, 14 Juli 1950
Umur                    : 67 Tahun
Pekerjaan              : Nelayan
Alamat                 : Dusun Bojongsalawe Desa Karangjaladri









BAB III
KESIMPULAN

Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa dari masyarakat. Tidak ada kebudayaan apabila tidak ada masyarakat dan tidak ada masyarakat jika tanpa kebudayaan. Kebudayaan berasal jadi suatu kebiasaan yang terjadi pada suatu kelompok msyarakat. Konsep perkembangan untuk melihat kebudayaan sebagai teks-teks yang harus dibaca, ditranslasikan, dan diinterpretasikan.Keterkaitan anatara individu, masyarakat dan kebudayaan sangatlah erat dalam kehidupan individu itu sendiri maupun orang banyak. Individu harus bersosialisai dalam masyarakat sehingga melestarikan kebudayaan dan menimbulkan kebudayaan baru yang mencirikan budaya Bangsa Indonesia sendiri.
Upacara  hajat  laut merupakan kebudayaan masyarakat Bojongsalawe  yang  harus dilestarikan, karena memiliki nilai budaya dan nilai sosial yang sangat tinggi.  Masyarakat  Bojongsalawe menyadari  pentingnya  nilai-nilai tersebut, sehingga dapat dilihat dari upacara tradisonal hajat laut tersebut dapat memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat Bojongsalawe. Hilangnya nilai-nilai budaya, artinya hilangnya hubungan manusia dengan Tuhan, hilangnya hubungan antar sesama manusia, dan hilangnya hubungan manusia dengan alam yang bisa diakibatkan oleh pengaruh negatif baik  dari  wisatawan,  televisi, handphone ataupun internet.














DAFTAR PUSTAKA



makalah sembah agung cijulang kab.pangandaran



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Masyarakat  Indonesia  adalah masyarakat yang kaya peninggalan sejarah dan budaya, baik berupa prasasti-prasasti maupun adat istiadat yang sifatnya religius dan sakral yang masih dipercayai oleh sebagian  masyarakat Indonesia. Peninggalan-peninggalan tersebut sangat berguna dalam usaha mengetahui kehidupan manusia Indonesia di masa lampau yang tidak ternilai harganya. Selain beberapa peninggalan di atas terdapat peninggalan kebudayaan lainnya, yaitu: Situs Sembah Agung di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai suatu tempat keramat. Bukti-bukti peninggalan bersejarah  khususnya  di  Kabupaten Pangandaran, masih banyak yang belum diketahui oleh para ahli atau bahkan sebagian besar warganya sendiri. Suatu hal yang ironis apabila suatu saat situs-situs peninggalan tersebut diekskavasi bangsa lain kemudian mereka merekonstruksikannya sendiri, sehingga pada gilirannya tidak berdasar pada fakta. Akibatnya bukan saja kurang bernilai melainkan juga kurang bermakna terhadap hal yang sebenarnya.

B.       Rumusan Masalah
1)      Bagaimana asal usul situs sembah agung ?
2)      Bagaimana proses ritual memasuki situs sembah agung di desa batukaras ?
3)      Dimana keberadaan situs sembah agung di desa batukaras kecamatan cijulang kabupaten pangandaran ?

C.    Tujuan Penulisan Makalah
1)      Untuk mengetahui asal usul situs sembah agung ?
2)      Untuk mengetahui proses ritual memasuki situs sembah agung di desa batukaras ?
3)      Untuk mengetahui dimana keberadaan situs sembah agung di desa batukaras kecamatan cijulang kabupaten pangandaran ?



Text Box: 1
 


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Asal Usul Situs Sembah Agung
Banyak yang belum mengetahui asal usul 78 Situs Sembah Agung penemuan Situs Sembah Agung dengan potensi wisata alamnya yang sangat indah dan beragam, banyak mengundang rasa penasaran  para  pelancong  atau  para wisatawan  untuk  datang  menikmati panorama  keindahan  alamnya.  Konon keindahan alam inilah yang membuat para wisatawan yang datang merasa nyaman tinggal di Cijulang, sehingga banyak dari mereka yang hidup menetap di Cijulang. Desa Batukaras termasuk salah satu desa yang  penduduknya  mayoritas  adalah pendatang, sebagian besar masyarakatnya berasal dari etnis Jawa. Dengan menetapnya etnis Jawa di Desa Batukaras telah memberikan adanya dua corak kehidupan yang berbeda yakni kehidupan masyarakat asli “Etnis  Sunda”  dan  komunitas pendatang “Etnis Jawa”, yang telah menjadi komunitas besar. Bahkan pada saat ini komunitas Jawa mendominasi di Desa Batukaras, yang sangat berpengaruh sekali terhadap kehidupan sosial, maupun dalam kebudayaan. 
Dengan  bercampurnya komunitas Sunda dengan mayarakat Jawa telah memberikan corak sosial dan budaya yang beragam serta membawa dampak unsur saling mempengaruhi yang terjadi karena terjalinnya hubungan sosial interaksi yang terjalin dengan baik antara etnis pendatang dan etnis pribumi. Keadaan sosial dan budaya komunitas Jawa yang berkembang di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang sebenarnya hal yang wajar terjadi, karena pada dasarnya kedua etnis tersebut memiliki unsur hubungan sosial budaya yang sangat erat, karena masyarakat Jawa umumnya hidup dalam nuansa dua budaya Jawa dan Sunda yang sangat mengakar kuat.
Text Box: 2Komunitas Jawa telah berkembang dan mendominasi di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang, namun hal tersebut tidaklah  menimbulkan  adanya  suatu diskriminasi  etnis,  yang  membedakan antara etnis pendatang dan etnis pribumi. Keduanya hidup rukun, kedua etnis tersebut memiliki pandangan bahwa perbedaan buklanlah sesuatu yang memisahkan, bukan pula sesuatu yang membuat untuk saling merendahkan. Keduanya saling menghargai dan  saling  menghormati  terhadap kehidupan sosial dan budaya satu sama lain. Penduduk Desa Batukaras yang umumnya berasal dari etnis Jawa mempunyai banyak budaya dan tradisi yang tentunya setelah mereka menetap di Batukaras, termasuk tradisi yang mereka lakukan di Situs Sembah Agung yang letaknya di Desa Batukaras yang merupakan salah satutempat yang dikeramatkan oleh masyarakat di Batukaras. Tradisi yang sering digelar di Situs Sembah Agung dengan harapan mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa, tetapi tradisi tersebut tidak terfokus oleh masyarakat Batukaras saja melainkan masyarakat luar daerah yang mempunyai harapan dan tujuan tertentu ke Situs Sembah Agung dan bersemedi di sana.

B.       Proses Ritual Memasuki Situs Sembah Agung di Desa Batukaras
Situs Sembah Agung terletak di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang. Di daerah ini penduduknya campur antara Jawa dan Sunda. Ritual memasuki tempat keramat Situs Sembah Agung biasanya membawa bunga  atau  kembang  warna-warni, kemenyan, dan minyak wangi sebagai persembahan atau makanan buat Situs Sembah Agung. Peziarah masuk dengan mengucapkan salam atau punten. Dengan dibantu  oleh  kuncen  untuk menyambungkan  kedatangan  peziarah dengan Situs Sembah Agung.  Sebagai muslim, percaya bahwa makam atau tempat dikeramatkan orang yang datang ke sana mesti mengucapkan salam, dan harus melalui juru kunci. Orang yang datang biasanya mengirim doa, membaca tahlil dan sholawat toyibah. Ritual masuk makam 79  Situs Sembah Agung hanya sekedar ritual saja, intinya ritual tersebut hanya untuk “pengeling-eling” (mengingatkan) bahwa kita suatu saat juga akan meninggal dan dikuburkan.
Dalam bahasa sunda ada istilah “nete taraje nincak ambalan”, jadi datang ke makam ini dapat dikatakan untuk mencari barokah dari para leluhur, safaat dari para nabi di akhir zaman, dan mukijat hanya Allah yang punya. Berdoa dimakam ini diharapkan ada barokah dari para leluhur dan sebagai keturunannya bisa ketitisan. Banyak juga orang yang datang untuk tirakat ke Situs Sembah Agung ini. Ada yang menginap, ada juga yang tidak. Orang yang tirakat dan menginap di makam ini ini dengan berbagai tujuan, ada yang ingin mencari barokah dalam hidupnya, tetapi juga ada yang sengaja mencari jodoh, oleh karena  itulah  makam  ini  kemudian dianggap keramat.



C.      Keberadaan Situs Sembah Agung di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran
Di Indonesia, pemujaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda keramat telah dikenal sejak zaman prasejarah. Pemujaan ini dapat dilihat dari peninggalan kebudayaan  yaitu  pada  zaman megalithikum. Nusantara pada periode prasejarah mencakup suatu periode yang sangat panjang, kira-kira sejak 1,7 juta tahun yang lalu, berdasarkan temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil hewan dan manusia (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, bagian tubuh hewan, logam (besi dan perunggu), serta gerabah. (Soekmono, 1973 : 71)
Hasil kebudayaan yang terdapat di Situs Sembah Agung merupakan hasil dari kebudayaan batu besar (megalithikum) yang dinamakan dengan dolmen yang dicirikan dengan adanya meja batu yang disangga dengan menhir-menhir. Batu ini merupakan tempat pemujaan roh tetapi dapat  juga  dipakai  sebagai  kuburan. Kebudayaan  megalithikum  adalah kebudayaan yang utamanya menghasilkan bangunan-bangunan  monumental  yang terbuat dari batu-batu besar dan masif. Bangunan Megalithikum ini digunakan sebagai sarana penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Penemuan bangunan Megalithikum tersebar hampir di seluruh  kepulauan  Nusantara,  bahkan sampai sekarang pun masih ditemukan tradisi Megalithikum, seperti terdapat di Pulau Nias, Sumba, Flores, dan Toraja. (Soekmono, 1973 : 73).
Berdoa di Situs Sembah Agung merupakan suatu kegiatan ritual yang lahir dari kepercayaan faham keagamaan pada manusia. Untuk mendapatkan keberkahan atau pertolongan dari para leluhur yang ada di dalam suatu benda keramat, maka diadakanlah suatu ritual, yang biasanya dilaksanakan dalam bentuk bertapa atau upacara  lainnya.  Menurut Koentjaraningrat, meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat, ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan.
Para  peziarah  umumnya  telah mengetahui  kekeramatan  tokoh  yang dimakamkan di tempat tersebut. Bahkan peziarah seperti ini melakukan ziarah secara berantai dari suatu makam keramat ke makam keramat yang lainnya. Peziarah datang berkunjung dengan rombongan besar maupun perorangan tentu didorong oleh berbagai motivasi atau niat yang berlainan antara satu dengan lainnya, yang masing-masing mempunyai motivasi yang belum tentu sama, tergantung apa yang akan “diminta dan kepentingan”. Peziarah yang datang berkunjung ini kebanyakan mendengar dan diberitahu oleh teman, tetangga  atau  kerabatnya  tentang “kekeramatan, karisma” tokoh yang dapat memberi harapan untuk hidup yang lebih baik dan lain sebagainya.
Peziarah yanmg datang ke Situs Sembah Agung antara lain bertutur bahwa pada mulanya hanya diajak oleh tetangga. Sejak awal ia merasa tidak memiliki motivasi datang ke tempat tersebut, namun setelah beberapa kali datang tempat tersebut ia berperasaan lain. Sejak itulah memiliki itikad untuk merubah nasibnya. Menurut pengakuannya, ia sering pergi ke tempat-tempat yang menurutnya merupakan tempat sakral. Menurutnya, baru ia pulang ke rumah apabila setelah mendapat ilapat (ilham).  Hingga  sekarang,  menurut pengakuannya kehidupannya sudah ada sedikit perubahan. Motivasi peziarah yang lainnya menyebutkan bahwa mereka datang ke Situs Sembah Agung bermaksud untuk merubah nasib. Orang yang belum memiliki pekerjaan tetap berziarah ke makam ini niatnya untuk mencari keberkahan sehingga ada perubahan pada nasibnya. Ada juga yang berniat mencari jodoh dan sebagainya.
Kondisi Situs Sembah Agung hampir tidak berubah dari waktu ke waktu. Kondisi  situs dan sekitar situs selalu bersih dan terawat 83  Situs Sembah Agung walaupun tidak ada yang membersihkannya. Udaranya sejuk karena berada di hutan yang keberadaannya jarang sekali dilewati masyarakat. Para pendatang dari luar daerah yang belum mengenal daerah ini yang ingin melakukan ziarah selalu meminta bantuan kepada kuncen agar diantarkan ke lokasi tersebut. Namun bagi masyarakat sekitar Situs  Sembang  Agung  yang  hendak melaksanakan ritual biasanya pergi sendiri tanpa bantuan kuncen. Kekeramatan Situs Sembah  Agung  memang  sangat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat di Desa Batukaras dan sekitarnya






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1)      Peziarah yang mengunjungi tempat yang dianggap keramat, termasuk mereka yang datang ke Situs Sembah Agung pada umumnya dilandasi oleh niat, tujuan yang didorong oleh kemauan batin yang mantap. Terdapat berbagai macam motivasi para peziarah datang ke makam keramat tersebut. Salah satu di antara  motivasi  peziarah  datang berkunjung ke Situs Sembah Agung adalah  untuk  menenangkan  batin. Motivasi ini didukung oleh persepsi yang  menyebutkan  bahwa  tempat tersebut adalah tempat yang sakral. Para peziarah merasa menemukan tempat yang cocok dengan maksud atau niat mereka datang ke tempat ini.
2)      Para  peziarah  umumnya  telah mengetahui kekeramatan tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut. Bahkan peziarah seperti ini melakukan ziarah secara berantai dari suatu makam keramat  ke makam  keramat  yang lainnya. Peziarah datang berkunjung dengan  rombongan  besar  maupun perorangan tentu didorong oleh berbagai motivasi atau niat yang berlainan antarasatu dengan lainnya, yang masing-masing mempunyai motivasi yang belum tentu sama, tergantung apa yang akan “diminta dan kepentingan”. Peziarah yang datang berkunjung ini kebanyakan mendengar dan diberitahu oleh teman, tetangga  atau  kerabatnya  tentang “kekeramatan, karisma” tokoh yang dapat memberi harapan untuk hidup yang lebih baik dan lain sebagainya. Mereka  ada  yang  datang  karena kemauan sendiri, tetapi ada juga yang diajak atau dianjurkan teman, tetangga atau kerabatnya yang merasa berhasil. Oleh karena itu, cara mereka berkunjung itu ada yang seorang diri, mengajak teman atau saudara, ada pula secara berombongan.

B.       Rekomendasi
Text Box: 6Demi menjaga kelestarian budaya dan adat ketimuran masyarakat Desa Batukaras, hendaknya lembaga pemerintahan terkait dan lembaga sosial  masyarakat, merekomendasikan antara lain :
1)      Sekiranya ada perbedaan budaya, jangan dijadikan sesuatu yang memisahkan tetapi  perbedaan  dijadikan  suatu khasanah kekayaan bangsa yang patut dihargai dan tetap terjaga.
2)      Situs Sembah Agung ini harus dilestarikan oleh masyarakat karena di dalamnya terdapat nilai-nilai masa lalu yang merupakan kekayaan budaya Indonesia. Sebenarnya bergantung pada motivasi itu sendiri, bila sebatas ingin mendoakan ahli kubur agar diberikan berkah dan diampuni dosanya oleh Allah SWT  mungkin  tidak  tergolong menyekutukan  Allah.  Tapi  bila motivasinya ngalap berkah (mencari berkah) atau mohon bantuan sesuatu yang dari sudah meninggal, tentu masalahnya menjadi lain. Oleh karena itu,  bergantung  dari  mana  kita memandang segala sesuatu itu. Tidak dapat  kita  pungkiri,  bahwa  ada kesalahpahaman  dalam  memandang 84 Situs Sembah Agung tetang ziarah itu. Kesalahpahaman itu semakin  lama  semakin  merebak sehingga sulit dibedakan, mana yang dianjurkan dan mana yang dilarang.
3)      Terlepas dari itu semua, mengunjungi tempat keramat itu sudah merupakan kebiasaan atau tradisi masyarakat yang sulit ditinggalkan atau dihilangkan. Biarlah itu hilang dengan sendirinya. tetapi,  selama  kegiatan  itu  tidak menyesatkan dan tidak keluar dari rambu atau aturan-aturan yang ada, itu tidak menjadi masalah. Peziarah hendaknya pandai  memilah-milah  agar  jangan sampai terjerumus menjadi umat yang rugi. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang baik. Bagi yang belum dapat memahami, bila dirasakan besar manfaatnya  maupun  sebaliknya, merupakan suatu resiko yang harus diterimanya. Namun atas keyakinan, mereka  siap  melakukan  apa  saja walaupun  memerlukan  pengorbanan moril maupun materil. Secara materi misalnya, tidak sedikit jumlah biaya yang  harus  dikeluarkan,  walaupun maksud dan tujuan yang diinginkan belum tentu terkabul. Rupanya masalah itu tidak menjadi problema, karena menyadari bahwa segala suatu itu perlu upaya,  walaupun  yang  menentukan segalanya Allah SWT. Tidak dapat dipungkiri,  itulah  salahsatu  sistem kepercayaan yang ada dan berkembang di  masyarakat  kita.  Namun  itu merupakan nilai budaya bangsa yang sarat dengan nilai luhur.



DAFTAR PUSTAKA

http://wisatadanbudaya.blogspot.com
http://www.google.com
http://www.wikipedia.com
http//: www.almanhaj.or.id



























Text Box: 8
 



Lampiran

Description: D:\PPT WAWASAN NUSANTARA\Situs-Sembah-Agung-di-Batukaras-Pangandaran-Wisata-Religi-yang-Terlupakan3.jpg
Description: D:\PPT WAWASAN NUSANTARA\63264438.jpg





Description: D:\PPT WAWASAN NUSANTARA\63264443.jpg



Text Box: 9
 

MAKALAH PENGARUH PENDIDIKAN DAN LATIHAN DASAR TENAGA KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS SDM

  MAKALAH PENGARUH PENDIDIKAN DAN LATIHAN DASAR TENAGA KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS SDM Disusun untuk memenuhi Tugas Mata kuliah Eko...